Warisi Nama Kerajaan Tertua Nusantara, KRI Sriwijaya-100 Siap Kembalikan Kejayaan Maritim
JAKARTA* - TNI Angkatan Laut resmi mengukuhkan kapal induk eks-ITS Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya-100. Prosesi pergantian bendera dan nama digelar khidmat di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
Upacara dipimpin langsung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Namun publik harus menunggu lebih lama untuk melihat aksi perdana kapal induk pertama Indonesia ini. KRI Sriwijaya-100 dipastikan absen dalam Naval Parade Selat Sunda pada HUT ke-81 TNI, 4 Oktober mendatang.
Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali membenarkan pembatalan tersebut. Keputusan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta peringatan HUT TNI tahun ini digelar sederhana dan efisien.
"Kalau itu batal tampil di naval parade. Kami menunggu perintah. Kalau ada perintah, kami siap," ujar KSAL di Tanjung Priok.
Imbas efisiensi tersebut, acara puncak di Monas dan atraksi fly pass jet tempur juga ditiadakan.
Angkat Nama Kerajaan Tertua
Pemilihan nama Sriwijaya bukan kebetulan. Sesuai tradisi TNI AL, kapal induk harus menyandang nama kerajaan maritim besar Nusantara.
Sriwijaya dipilih karena merupakan kerajaan maritim tertua dan terbesar di Nusantara, bahkan lebih tua dari Majapahit. Nama ini menjadi simbol kebangkitan kembali kekuatan laut Indonesia.
"KRI Sriwijaya merujuk pada kerajaan maritim Indonesia tertua. Diharapkan dengan nama ini, kita dapat mengembalikan keemasan kejayaan kemaritiman Nusantara seperti masa lampau," tegas KSAL.
Rogoh Rp7,5 Triliun untuk Retrofit
Sebelum siap tempur, KRI Sriwijaya-100 akan menjalani proses retrofit atau penyesuaian total. Anggarannya tak main-main, mencapai Rp7,5 triliun.
Modifikasi meliputi penyesuaian sistem pendingin untuk iklim tropis, peningkatan fasilitas medis, dan kelengkapan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Kapal ini nantinya tidak hanya untuk perang, tapi juga difungsikan sebagai pangkalan udara terapung untuk misi kemanusiaan, penanggulangan bencana alam, hingga penanganan karhutla.

Komentar via Facebook