RAJA BELANDA AKUI DOSA KOLONIAL: 500 Juta Euro Mengalir dari Darah Nusantara, Willem-Alexander: Ini Kesimpulan yang Menyakitkan

RAJA BELANDA AKUI DOSA KOLONIAL: 500 Juta Euro Mengalir dari Darah Nusantara, Willem-Alexander: Ini Kesimpulan yang Menyakitkan

JAKARTA, AMSTERDAM – Sejarah kelam kolonialisme akhirnya diakui langsung oleh puncak takhta Kerajaan Belanda. Raja Willem-Alexander mengaku terguncang dan merasa bersalah setelah studi resmi Universitas Leiden membongkar fakta bahwa keluarga kerajaan meraup keuntungan haram senilai 500 juta euro atau Rp10,08 triliun dari kolonialisme dan perbudakan di Nusantara.

 

Studi monumental lima jilid yang dipesan langsung oleh Raja pada tahun 2022 itu menyimpulkan secara tegas, Wangsa Oranye-Nassau selama berabad-abad memandang kolonialisme sebagai sumber keuntungan yang sah.

 

"Ini adalah kesimpulan yang menyakitkan dan menggugah kesadaran," ujar Willem-Alexander dengan nada menyesal saat menerima hasil penelitian di Universitas Leiden, Senin (5/10/2026), seperti dikutip Arab News.

 

Narasumber Utama - Raja Belanda Merasa Bersalah :

 

Raja berusia 59 tahun itu tidak bisa menyembunyikan keguncangannya. Di hadapan para sejarawan, ia menyebut temuan itu sebagai sesuatu yang "tegas dan mencolok".

 

Ia secara jujur mengakui minimnya keberanian para leluhurnya untuk melawan arus kekejaman.

"Kesimpulan ini berdampak pada diri saya, meskipun saya berada tiga generasi setelahnya,"* kata Willem-Alexander.

 

Ia juga menyoroti bahwa tidak ada "kepemimpinan yang berani melawan arus" dari leluhurnya saat praktik kolonialisme dan perbudakan merajalela.

 

Perbudakan dan eksploitasi VOC menjadi mesin pembiayaan "Zaman Keemasan" Belanda pada abad ke-16 dan ke-17. Kekaisaran itu dibangun di atas penderitaan wilayah jajahannya, termasuk Indonesia, Suriname, dan Karibia.

 

Ketua komisi penelitian, sejarawan Gert Oostindie, menegaskan keluarga kerajaan memberikan dukungan "aktif dan tanpa rasa sungkan" terhadap sistem kolonial, termasuk perbudakan.

 

Pengakuan ini melanjutkan permintaan maaf resmi yang telah disampaikan Raja pada tahun 2023 atas kejahatan perbudakan.

 

Willem-Alexander kini berkomitmen mendorong proses "pemulihan dan rekonsiliasi" total atas dosa masa lalu kerajaannya terhadap Nusantara.

 

Mahardika Nusantara mencatat : Pengakuan tanpa kompensasi nyata adalah omong kosong. Keadilan historis harus dikembalikan kepada rakyat Nusantara.

Red (Rizq wijaya)