Dieng Bisa Jadi Lebih dari Sekadar Oleh-Oleh: Peluang Kopdes Merah Putih Membangun Rantai Pasok Pangan

Dieng Bisa Jadi Lebih dari Sekadar Oleh-Oleh: Peluang Kopdes Merah Putih Membangun Rantai Pasok Pangan

Oleh Chef Jawel Husin - The singing chef 

mahardikanudantara.id -  Selama ini kentang Dieng, carica, purwaceng, dan yacon dikenal sebagai buah tangan wisata. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, komoditas-komoditas itu berpotensi menjadi bahan baku industri pangan berskala nasional — dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/Kel) bisa menjadi kendaraannya, asalkan sejumlah syarat mendasar dipenuhi lebih dulu.

Pandangan ini saya sampaikan saat menjadi pemateri dalam kegiatan Kementerian Koperasi Republik Indonesia, melalui Deputi Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi, bersama 100 pengurus Kopdes/Kel di Wonosobo.

Dari Tempat Transaksi Menjadi Penghubung Rantai Nilai

Selama ini, koperasi desa umumnya berperan sebagai tempat mengumpulkan dan menjual hasil panen petani. Peran itu penting, tetapi terbatas. Kopdes/Kel punya peluang mengambil posisi yang lebih strategis: menjadi penghubung antara petani, teknologi pengolahan, pembiayaan, distribusi, dan pasar.

Di sinilah pendekatan gastronomi relevan. Gastronomi bukan sekadar soal makanan di atas piring, melainkan cara memandang hubungan antara bahan pangan, lingkungan, budaya, dan nilai ekonomi yang bisa lahir dari sebuah produk.

Dengan cara pandang itu, kentang Dieng tidak harus selalu dijual mentah. Ia bisa diolah menjadi produk seperti kentang beku (frozen potato), puree, atau flakes untuk kebutuhan industri makanan — dengan catatan penting: setiap produk itu harus memenuhi standar keamanan pangan dan persyaratan teknis yang berlaku, bukan sekadar mengganti kemasan.

Prinsip serupa berlaku untuk sayuran dataran tinggi lain. Proses sortasi, pencucian, pemotongan, pembekuan, dan pengemasan yang lebih baik dapat memperpanjang umur simpan dan membuat produk lebih siap masuk ke rantai pasok modern.

Program Makan Bergizi Gratis: Peluang, Bukan Jaminan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Badan Gizi Nasional membuka gambaran soal kebutuhan pangan dalam skala besar. Bagi daerah penghasil pangan seperti Wonosobo, ini bisa menjadi peluang membangun industri pengolahan berbasis koperasi.

Namun MBG tidak boleh dilihat semata sebagai pasar yang tinggal “dikejar”. Produk yang masuk rantai pasok program pangan berskala nasional harus memenuhi sejumlah persyaratan sekaligus: keamanan pangan, spesifikasi produk, kapasitas produksi, kontinuitas pasokan, harga yang kompetitif, sistem distribusi, dan ketertelusuran (traceability).

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bagi pelaku usaha dan koperasi di Wonosobo bukanlah “bagaimana memasukkan produk ke MBG?”, melainkan “apakah produk kami sudah siap memenuhi kebutuhan MBG dalam skala besar?” Jika jawabannya belum, pekerjaan rumahnya jelas: perbaikan kualitas, standardisasi, penghitungan biaya produksi yang realistis, pengembangan teknologi pengolahan, dan penguatan kapasitas produksi — proses yang biasanya memerlukan waktu, investasi, dan pendampingan, bukan langkah instan.

Carica, Purwaceng, dan Batas antara Potensi dan Regulasi

Carica sudah menjadi identitas pangan Wonosobo. Tantangannya adalah mengembangkan produk ini melampaui status oleh-oleh — misalnya menjadi puree, preserve, minuman, bahan dessert, filling, atau saus untuk kebutuhan food service, tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Purwaceng dan yacon punya potensi serupa, tetapi keduanya menghadapi jalan yang lebih panjang. Sebagai produk berbasis tanaman dengan klaim kesehatan atau khasiat tertentu, keduanya memerlukan penelitian, standardisasi, uji keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi sebelum bisa dipasarkan secara luas dengan klaim tersebut. Ini bukan hambatan administratif semata, melainkan prasyarat agar produk dipercaya pasar dan konsumen.

Hal yang sama berlaku untuk gagasan produk air minum kemasan dengan identitas kawasan Dieng — sebut saja sebagai ilustrasi, konsep seperti “Atas Awan”. Sebuah nama atau narasi branding yang kuat tidak bisa menggantikan kelayakan sumber air, proses produksi yang higienis, serta izin dan regulasi yang harus dipenuhi lebih dulu.

Pariwisata sebagai Etalase, Bukan Tujuan Akhir

Dieng sudah dikenal luas sebagai destinasi wisata alam. Wisata kuliner dan gastronomi berpotensi melengkapi pengalaman itu — wisatawan tidak hanya menikmati lanskap, tetapi juga bisa mengenal bahan pangan lokal, mengunjungi sentra produksi, mencicipi makanan berbasis produk Dieng, dan membeli produk olahan sebagai buah tangan yang lebih tahan lama.

Dalam skema ini, Kopdes/Kel dapat mengambil peran melalui pengembangan usaha food service, kafe, pusat produk lokal, atau kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata — membentuk rantai yang saling terhubung: petani, koperasi, unit pengolahan, produk jadi, hingga pasar dan konsumen akhir.

Pasar potensialnya juga tidak perlu berhenti di Wonosobo: ritel, hotel dan restoran, food service, pasar institusional seperti MBG, hingga pasar nasional. Peluang ekspor bisa menjadi tahap lanjutan, tetapi hanya setelah produk terbukti memenuhi standar kualitas dan daya saing di pasar domestik terlebih dahulu.

Koperasi sebagai Penggerak, Bukan Solusi Instan

Indonesia memiliki kondisi geografis dan sumber daya yang beragam, sehingga tidak semua daerah perlu memproduksi hal yang sama. Dieng bisa memperkuat keunggulan hortikultura dataran tingginya, sementara daerah lain mengembangkan keunggulan masing-masing sebuah model pasokan regional yang terspesialisasi.

Dalam kerangka ini, Kopdes/Kel berpeluang menjadi instrumen untuk mengonsolidasikan kekuatan tersebut: mengagregasi hasil produksi petani, mendorong standardisasi, menjembatani akses ke teknologi pengolahan, membangun akses pasar, dan memastikan nilai tambah ekonomi lebih banyak tertinggal di desa  bukan hanya berpindah ke tangan perantara.

Tentu, semua ini bukan proses yang instan. Kapasitas kelembagaan koperasi desa, akses pembiayaan, ketersediaan teknologi pengolahan, serta pendampingan teknis dan regulasi tetap menjadi tantangan nyata yang perlu diatasi secara bertahap  bukan diselesaikan hanya dengan optimisme atau branding.

Ukuran Keberhasilan yang Sesungguhnya

Keberhasilan langkah ini sebaiknya tidak diukur dari seberapa banyak produk baru yang diluncurkan, melainkan dari pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak petani yang benar-benar memperoleh akses pasar baru, berapa besar nilai transaksi yang tercipta, seberapa besar nilai tambah yang tertinggal di desa, dan sejauh mana produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Wonosobo tidak kekurangan kekayaan alam. Yang masih perlu dibangun adalah kemampuan mengubah kekayaan itu menjadi produk yang memenuhi standar, bernilai tambah, dan punya jalan yang jelas menuju pasar  dari tanah Dieng menuju pasar Indonesia, dan pada waktunya, jika standar dan daya saing itu benar-benar tercapai, menuju pasar yang lebih luas lagi.